Menghindari Debat Kusir
Januari 21, 2007 oleh passya
Bagi Anda yang merasa sudah layak dan pantas menafsirkan ayat-ayat Al qur’an, pasti Anda sudah menguasai ilmu bahasa arab, tashrif, isytiqaq, ma’any, bayan, badi’, ilmu qira’at, ushul fiqh, asbab nuzul, nasikh mansukh, fiqh dan ilmu hadits.
Jikalau Anda hanya tahu sebagian saja, sedang asbab nuzul suatu ayat tidak tahu, atau asbab nuzul-nya sudah tahu tetapi anda tidak tahu apakah ayat tersebut ada nasikh mansukh-nya, berarti Anda belum ‘qualified’ untuk menafsirkan. Berhentilah sejenak. Lebih baik Anda belajar lagi semua poin-poin di atas sehingga Anda terhindar dari perbuatan yang mengedepankan hawa nafsu dengan dalih otak Anda sangat encer.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua teman-teman, baik yang sudah merasa islami terutama yang masih abangan. Daripada Anda saling menghujat merasa ‘ilmu saya lebih tinggi’ atau ‘akal saya lebih baik’ atau ‘jadi penonton lebih mulia’, mari kita belajar bersama dan menempatkan sesuatu sesuai porsinya.
“……..Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri” An Nahl:89
Pokoknya™ jangan coba-coba menafsirkan ayat kalau belum QUALIFIED!
Lalu siapa yang sudah QUALIFIED? Apakah para ulama yang punya pabrik fatwa dan selalu merasa maha benar itu?
Orang cenderung balas menghujat kalau dihujat duluan. Siapa yang hobi bagi-bagi cap kafir, sesat, laknat secara cuma-cuma? *smug malu-malu*
Btw, untuk mengamalkan, setidaknya perlu tahu maksudnya dulu kan? Perlu menafsirkan dulu kan? Lagi-lagi, apakah penafsirannya HARUS berpedoman pada pemahaman para tukang pecah-belah yang mengaku QUALIFIED?
*back to focus*
Tentang debat kusir, sesuatu yang multitafsir akan selalu memicu debat kusir ketika masing-masing ngotot pakai penafsirannya sendiri. Solusi: bikin standarisasi penafsiran saja, yang ga mau manut tembak ditempat
*kerasukan taliban*
Ternyata hampir sama ya seperti di Kristen. Yang Protestan merasa lebih rohani dibanding yang Katholik mau pun aliran2 lainnya, dan sebaliknya. Hehe. Sebetulnya, lebih susah rendah hati kepada orang yang beda aliran agama, meskipun seagama. Ngerti kan maksud saya?
hahaha, jadi kesindir saya … pernah nyebut urutan itu di blog bung Tajib, nyebutin doang, mana berani menafsirkan.
Jujur saja, saya penonton aja dan belajar, bukan karena supaya lebih mulia, tapi itulah adanya.
@wadehel
if ingin_tahu=yes
sepakat=false
do until sepakat=true
tanya sama yang lebih tahu!
baca literatur
sepakat?
loop
else
emang dasar gak mau tau!
end
@gaby
ya jelas dong…. bapak saya aja bela2in motong ayam kalo ada tamu. coba anaknya yang minta….
@fulan
ayo belajar bareng….yang nilai bukan manusia kok
luruskan niat, jika debat kusir terus ditinggal lari kuda. belajar terus…
siap pak…
Kan sudah ada MUI, Majelis Ulama yang anggotanya Ulama. Bukan kiyai lho. Di Jawa, sapi juga dipanggil kiyai.
Mau jadi Ulama itu nggak gampang. Jadi kiyai gampang, tinggal naek haji lilit sorban, bikin statement kontroversial, masuk tipi jadi dah kiyai.
Jadi hubungannya MUI sama penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, daripada menafsirkan sendiri dengan bekal elmu hanya sel-sel kelabu a gift from Tuhan, mending nanya ke yang sudah kapalan hari-hari itu aja yang diurus. Ya Ulama itu. Yakinlah sama janji Tuhan bahwa Ulama itu dipelihara sama Dia. Jadi ikutin ajalah mereka.
Katanya, beri salam selamat Natal haram. Ya amini aja. Walau ntar dalam prakteknya bisa aja di adjust sesuai kebutuhan dan situasi. Misal tetangga yang udah bantuin bikin ketupat, masak dirumah. Lebaran paling duluan datang ucapin selamat dst, terus masak kalau dia Natalan kita cuek gara-gara Fatwa selamat natal haram dari MUI tadi.
Yang sudah pasti nggak bisa diadjust itu misal FATWA ahmadiah harom karena ada sebutan laen selain Muhammad saat sholat. Itu beda. Atau kalau mau yang ekstrim kayak di Lombok ada Islam waku telu. Sembahyangnya hanya 3 kali sehari. Itu haram. Nggak bisa diajust.
Kalo misalnya lagi musik haram katanya … Ah … You adjust ajalah … Gitu aja koq repot. Ambil aja esensinya ….
Waduh kepanjangan …. Ini postingan bikin gatel nulis …. Sukseslah kompornya
dengan menganggap tulisan ini sebagai kompor (entah kompor apa maksud anda), anda sudah melakukan adjustment kok…thanx
Belajar lagi yuuuk.. Sampai mati! teruuus
di antara yang sudah qualified itu bisa terjadi debat kusir juga gak ya?
biasanya….tong kosong nyaring bunyinya…kayak saya
sementara ilmu padi, makin menunduk makin berisi… kayak kang adhi
89. (Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. 16:89)
Amin, semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang berserah diri.
Amin..
menonton kusir berdebat, kuda dibawa kabur wadehel
Untung saya bukan kusir, apalagi kuda.
Hmm, ketika tidak ada kata sepakat, diskusi menjadi debat kusir. Darimana padanan kata itu ya? emang kita kusir??? atau emang kusir suka berdebat??? .. ga ngerti deh .. soalnya saya ga ahli dalam tata bahasa Indonesia.
Saya pernah berkata pada seorang teman. Apakah kita menjadi seorang muslim, kristen, budha atau apapun itu karena keimanan kita atau kesadaran kita sendiri, atau karena kita lahir dari ortu & lingkungan yang muslim, kristen, budha dll???
Apakah kita tetap yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar sekiranya kita lahir dari ortu Kristen. Atau sebaliknya, apakah kita tetap yakin bahwa Kristen adalah agama yang paling tepat sekiranya kita lahir dari ortu Islam??
So .. memang sudah saat nya kita bertanya, sehingga kita semakin yakin dengan agama kita bukan karena doktrin tapi karena keyakinan. Jangan kawatir untuk selalu bertanya. Oleh karena itu dalam Al Qur’an juga sudah dijanjikan untuk orang-orang yang selalu berpikir.
Jadi biarlah beda pendapat. Kita gunakan pikiran kita masing-masing. Biar Allah yang membimbing kita. Bukan orang yang membimbing kita. Bukankah, Allah menjanjikan untuk membuka hati bagi orang2 yang dikehendaki-Nya???
Saya suka dengan perbedaan. Justru dengan perbedaan itu, walaupun amburadul .. tidak akan pernah mengoyahkan iman saya. Justru semakin menguatkan. Karena ilmu bisa datang dari siapa saja. Jangan takut untuk belajar. Jangan takut kotor.
Pasya .. thanks tulisannya. Thanks kesempatannya untuk berdiskusi. Semoga kita semua termasuk orang2 yang diberi hidayah oleh Nya. Allah dan agama “tidak memerlukan” kita. Tapi kitalah yang memerlukan Allah dan agama. Ok.
jadi inget cerita tukang cukur yg lagi nyari Tuhan…
bujug dah …..
pesantren mana nih pindah kemari
*ngacirr*
yg boleh ngomong gini kudu anak pesantren ya….
ada yang bilang al quran itu “cuman” kitab kering. fungsinya untuk menerangi “kitab basah” ( hati) .
jadi kalau hanya menafsirkan, tak harus menguasai ilmu bahasa arab, tashrif, isytiqaq, ma’any, bayan, badi’, ilmu qira’at, ushul fiqh, asbab nuzul, nasikh mansukh, fiqh dan ilmu hadits..
toh meskipun sudah ahli bidang di atas itu, kalau hatinya buta, tafsiran bisa melenceng, disesuaikan dengan keinginan diri dan kelompoknya.
bukan berati ilmu2 tak penting maksudku.
hati buta lain kasus bro…tapi kalau sudah menafsirkan yg satu itu…anda harus punya ilmu yg mumpuni, biar tidak sa’ ena’ udhele dhewe, sa’ karepe..
Berdebat itu bagus, bisa nambah wawasan dan paham isi otak tiap orang tu beda2 (isi telor, ikan asin, tempe, tahu. udang dll).
Tapi jangan bawa2 kusir, emangnye kalo kusir lg debat kaya apa sih?
setuju! ning janjane ini ngomong apa to?
Hmm..menurutku koq kalo dalam hal mengemukakan pikiran dan pendapat kita bebas ya, selama kita tidak berniat “menafsirkan” atau menjadi mujtahid ya sah2 aja..tapi kalo udah ngomong seenak udel tanpa dasar ilmu ya sama aja dengan kuda. Manusia itu hayyaawanun naafiquun (maaf kalo salah ;P)..hewan yang berpikir. Meskipun berilmu tapi kalo ngomongnya pake emosi ya berarti dia dah ga pake otak. Atau ada yang pake otak tapi kalo ga berilmu ya pepesan kosong. Atau udah ga pake otak plus ga berilmu alias waton ngomong ya mbuh ra ruh..
Selama berbicara masih dalam koridor, dengan niatan baik dan hati yang bersih, dan tidak bermaksud menghakimi atau menghujat..monggo, silakan aja mengeluarkan pendapat. Kalaupun ada kritik, ya yang dikritik jangan langsung menyumpahi gitu..kan kesannya gimana. Mending ditanggapi dengan bijak dan ga rumit. Jangan bawa-bawa nama orang lain dululah..yang di-kita-nya aja yang dibahas.
Saya kurang lebih setuju lho dengan yang Mas Passya bilang di atas..gitu aja koq repot..hehehe
anda ingat…hadits palsu itu banyak yg tujuannya baik..tapi dalam kasus ini..palsu ya tetap palsu..
@grandiosa: masih untung debat sama kusir. Coba kalo debat sama kuda?
Om Passya, maksudnya islam abangan itu apa yaaa?
Berdasarkan contoh kalimat: Kalo mau beli bakso di Jakarta… kita selalu berkata “Bang…, bang… baksonya dong. Jangan pedes-pedes yaa?”
Apakah islam abangan memiliki konteks yang sama?
contoh kalimat: “Bang…, bang, beli islamnya dong? Jangan pedes-pedes yaaa?”
kalo di indo, Islam yg gak pedes banyak kayak kacang goreng, kalo di Belanda gimana??
heu heu heu menghindari debat kusir?! hmm, coba terjun juga deh ke berbagai kelompok islam yang ada di negeri ini, debat kusir hanya ada di media TV, di medan sesungguhnya bisa sampai culik dan bunuh !!!
“hindari debat kusir”…kata-kata ini jadi senjata para akhi dan akhwat jika mereka dihadapkan pada diskusi terbuka sekalipun. payah…payah…payah!
liat komennya ardhi…dan jangan suka berprasangka…komen itu cermin diri lho…
kalo menurut saya mah, debat kusir itu debat yg bukan untuk cari solusi, tapi debat antara orang yang sok tau dan ga mau kalah.
waaah seandainya aa dan poligamers lainnya baca tulisan ini, pasti mereka akan malu. betapa tidak? selama ini mereka menafsirkan ayat tertentu secara letterlijk. pantesan pada ngaco menafsirnya heu heu heu.
Srintil: salut deh utk Pak Passya krn pencerahannya.
Wadehel: Maka dari itu, hindari…hindari debat…debat apa hayo?
Srintil: kusir
Wadehel: tinggian dong…
Srintil: nguusirrrr
Ndak usah ditembak e… Cukup diancam nggak bakal masuk surga aja
wadehel banget!!
gak sia2 anda sarapan dengan menu-nya
Wahhhh inilah bentuk lain dari keangkuhan dan kesombongan dengan alasan dan dalih yang di buat - buat. Apa iya kita mesti punya sertifikat “qualified” dulu baru boleh bicara tentang apa yang kita yakini ???, lalu siapa yang bisa memutuskan “qualified” atau tidak ???
Dalam AL-Qur’an sendiri jelas diperintahkan untuk “Bacalah !!…” bukan “Tafsirkanlah…” bahkan AL-Qur’an yang diterjemahkanpun penerjemahnya tidak berani menafsirkan sendiri barang satu ayatpun.
Selama hati kita bersih AL-Qur’an adalah untuk kita bukan hanya untuk orang - orang “qualified”.
Salam
apa ‘bicara’ identik dengan ‘debat kusir’??
aduh saya jadi bingung…waktu saya TK disuruh guru begini “Bacalah….!!” maka saya baca tentu dengan mengeja satu persatu.
ketika sekarang saya disuruh “Bacalah..!!” dan saya membaca dengan lagu yg indah… guru saya cuma bengong memandangi saya sambil teriak lagi “Bacalah…sampe ngerti!!”
kayaknya postingan kali ini ketinggian deh buat gue, hehe. Kalo gue mah, ngapain sotoy sendiri, jelas dong masalah Qur’an en hadist gak bs dipelajari sendiri, mesti mangkul tuh (gue gak tau bhs indo-nya ‘mangkul’ apaan, tp istilahnya gitu di pengajian gue). Ntar di akhirat diminta pertanggungjawabannya, dulu belajar ama sapa, sumbernya mana? murni Qur’an - hadist gak? (kira2 gitu lho…).
Dan kalo namanya ‘mangkul’, sumbernya sama, pasti gak ada yg beda dong… gak perlu debat kusir…
ah cape deh…
kau bilang: “liat komennya ardhi…dan jangan suka berprasangka…komen itu cermin diri lho…”
sebelumnya, terserah penilaian kau lah mau komen itu cermin diri atau cermin isi kepala. Yang jelas, aku, Srintil tak pernah jaim (jaga image). bagi Srintil, kejujuran & kelurusan hidup lebih penting dari penampilan, bungkus atau topeng.
prinsip lainnya yg mendasar adalah prasangka. biar kau tidak berprasangka juga bahwa aku berprasangka pada orang/kelompok lain, berikut ini pernyataanku:
seperti kubilang di atas agar kau pun coba terjun langsung ke medan islam kekinian. jangan hanya berwacana tapi masuklah kedalam kelompok (harokah atau holaqoh) yang ada, paling tidak HT, IM, dan NII. apa strategi perekrutan layer sekian mereka dalam merekrut orang yang didakwahi (mad’u) ? maka kau akan temukan salah satu doktrin untuk menghindari dialog terbuka, yaitu dengan doktrin jamaah: “hindari perdebatan”. Ini alibi yang menciutkan para pentradisi kata ‘akhi’ dan ‘akhwat’ untuk kalah sebelum berperang.
ini bukan klem generalisasi tapi pengalaman pribadi. Srintil sempat tergabung dalam bbrp barisan holaqoh yang beberapa tahun lalu telah mencapai 2000 pengikut setia utk wilayah bandung saja.
Srintil bukan anonim, kau pegang alamat e-mail dan IP-ku. Hubungi japri saja untuk berdiskusi lebih lanjut.
tanggapan balik saya tidak muncul, apa apa pak?
@srintil
baru online, sorry comment anda di atas tertangkap Akismet. why? sepertinya karena anda 3x komen tanpa submit web address.
aduh…saya sangat salut dengan pengalaman organisasi anda terutama dalam ormas islam.
saya tidak biasa diskusi ‘tinggi2′…abis saya sadar ilmu saya tidak mumpuni sampe ke situ. jadi, saat ini saya masih belajar, belajar dan belajar…
apakah HT, IM dan NII, DDI, FPI merupakan representasi seluruh umat islam di indo? oke anda katakan anda tidak me-generalisasi. apakah hanya mereka itu yang layak disebut ‘medan islam kekinian’?
kemana muhammadiyah, NU, dll?
bicara diskusi, saya pendukung diskusi terbuka tapi berbobot, bukan debat kusir yang asbun dan mengedapankan nafsu belaka!!
sekali lagi saya quote komentar ardhi:
semoga kita tidak sedang berdebat kusir…
btw, kalo kalimat seperti ini: Demi citra diri komentar pun diberangus, bisa disebut berprasangka gak??
@srintil,
“masuklah kedalam kelompok (harokah atau holaqoh) yang ada, paling tidak HT, IM, dan NII. apa strategi perekrutan layer sekian mereka dalam merekrut orang yang didakwahi (mad’u) ? maka kau akan temukan salah satu doktrin untuk menghindari dialog terbuka, yaitu dengan doktrin jamaah: “hindari perdebatan”.
Walah … bukannya ini “taklid buta” buta namanya ?
“apakah hanya mereka itu yang layak disebut ‘medan islam kekinian’? kemana muhammadiyah, NU, dll?”
@Passya
3 gerakan pertama = gerakan politik
2 yang terakhir= gerakan dakwah
Kenapa saya hanya sebut 3 saja sebagai kekinian, ini dalam kaitannya dengan komentar saya tentang kecenderungan pengaraban.
Tak ada kaitan dengan muhamadiyah dan nu, karena secara umum mereka berjalan dalam jalurnya selain telah mengakar kuat untuk Indonesia. Sekali lagi, 2 ini bukan gerakan politik! jadi tak ada masalah.
“Demi citra diri komentar pun diberangus,”
Apa saran Anda judulnya perlu diganti?
Walah … bukannya ini “taklid buta” buta namanya ?
@maiden
even worse than it.
Makanya, jangan ditafsirkan. Dibaca saja, dipahami, coba pahami. Dari pada ribet baca kata si anu, kata si ini, kata bla…bla… bla… terus ribut di asal-usul. Jadi berserah diri saja, kepada mereka kan Al Qur’an diberikan. Bukan untuk didebatkusiri, untuk yang beriman, pelajaran bagi yang berakal, bukan pelajaran para debatkusir….
Alangkah bagusnya bila passya daftarkan postingan ini di
http://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/28/pendaftaran-%e2%80%9ctop-posts%e2%80%9d-jan-feb-2007/
pada kategori Low-Profiled dan kategori lain yang relevan.
[...] Hal itu pula yang kadang membuat sedikit manja beberapa pria Batak. Mereka menjadi seolah memanfaatkan ketangkasan dan ketahanan istrinya, sementara dia sendiri asyik berleha-leha di lapo alias warung bicara ngalor ngidul sambil berdebat kusir [...]
your comment to Arief Kurniawan:
“kalo di indo, Islam yg gak pedes banyak kayak kacang goreng, kalo di Belanda gimana??”
hmmm… maksudnya apa ya?
Maaf, bukannya apa-apa, sih, tapi… Terjemahan ‘ulama’ itu adalah ‘orang-orang yang berilmu’, jadi yang disebutkan Al-Qur’an sebagai ‘ulama’ adalah ilmu secara umum. Jadi, ‘tanyakan pada ulama’ itu berarti ‘tanyakan pada orang berilmu’. Kalau mau konsultasi kesehatan, ke dokter, dan seterusnya.
[...] istrinya, sementara dia sendiri asyik berleha-leha di lapo alias warung bicara ngalor ngidul sambil berdebat kusir Makanya, jika prioritas Anda dalam mencari pasangan hidup adalah kesetiaan dan pengabdian, wanita [...]
[...] membuka secara acak, saya menemukan tulisan pasya dan wadehel tentang debat [...]
….